Berita

Pelatihan Hisab Rukyat
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Kontributor:
Amirudin, S.Ag.,
Sekretaris Eksekutif Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Yogyakarta – Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah baru-baru ini menyelenggarakan Pelatihan Hisab Rukyat selama 5 hari 4 malam, yaitu pada hari Rabu s.d. Ahad, 25 s.d. 29 Juli 2007 M di Yogyakarta. Pelatihan Hisab Rukyat ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari MTT PW Muhammadiyah se-Jawa, MTT PD Muhammadiyah se-DIY, dan beberapa Perguruan Muhammadiyah serta Ortom yang ditunjuk. Salah satu tujuan diadakannya Pelatihan ini adalah untuk mencetak kader-kader teknis dalam bidang hisab rukyat di kalangan Muhammadiyah.

Dalam kegiatan ini, materi yang disajikan antara lain: Dasar-dasar Ilmu Falak, Hisab Arah Kiblat, Hisab Awal Waktu Shalat, Hisab Awal Bulan Qamariyah, Pengenalan Scientific Calculator dan Perangkat Hisab Rukyat, Teori dan Praktek Rukyat, Pengenalan Software Hisab Rukyat serta Kebijakan Pemerintah dalam Persoalan Hisab Rukyat. Sebagai narasumber/instruktur, selain dari pakar hisab MTT PP Muhammadiyah, seperti Drs. Oman Fathurrohman SW., M.Ag., Dr. H. Susiknan Azhari, M.A. dan Drs. H. Sriyatin Shadiq, S.H., M.A., diundang pula para ahli dari pihak luar, antara lain: Ir. H. Djawahir, M.Sc., Drs. Munthoha, Drs. H. Sofwan Jannah, M.A. dan dari Dirjen Bimas Islam Departemen Agama.

Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Ketua PP Muhammadiyah, dalam Sambutan resmi pada acara pembukaan menyampaikan bahwa Hisab telah menjadi ciri khas bagi Muhammadiyah. Sementara Nahdlatul Ulama terkenal dengan Rukyat. Sayangnya, di kalangan Muhammadiyah belum banyak kader yang berminat mendalami ilmu ini. Hal itu menimbulkan kesan adanya taqlid kepada Majelis Tarjih dalam persoalan hisab rukyat. Oleh sebab itu, ada baiknya Majelis Tarjih lebih giat mensosialisasikan ilmu hisab rukyat, misalnya dengan membuat buku tuntunan yang bisa dijadikan pegangan bagi warga dan pimpinan Muhammadiyah di semua tingkat.

Pertemuan Ahli Hisab Muhammadiyah

Kontributor:
Amirudin, S.Ag.,
Sekretaris Eksekutif Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Yogyakarta-Dalam rangka melaksanakan amanat Rapat Pleno Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada hari Sabtu, 14 Juli 2007 di Yogyakarta, mengenai Penetapan Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal 1428 H), Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah menyelenggarakan Pertemuan Ahli Hisab Muhammadiyah se-Indonesia. Pertemuan Ahli Hisab ini dilaksanakan pada hari Selasa dan Rabu, 31 Juli dan 1 Agustus 2007 di Gedung PP Muhammadiyah Jl. Cik Ditiro 23 Yogyakarta. Lebih kurang 50 orang yang terdiri dari perwakilan MTT PW Muhammadiyah se-Indonesia, Anggota MTT PP Muhammadiyah dan beberapa Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah hadir untuk mendiskusikan 2 (dua) tema besar; Kajian tentang Dalil-dalil Kriteria Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi; dan Masukan-masukan Seputar Persoalan Upaya Penyatuan Kalender Islam Internasional.

Secara umum, penggunaan metode hisab dengan kriteria wujudul hilal tidak menjadi persoalan bagi Muhammadiyah dalam penetapan awal bulan-bulan Qamariyah, termasuk Ramadan dan Syawal. Bahkan, meskipun dalam Putusan Tarjih Muhammadiyah disebutkan bahwa antara Hisab dan Rukyat mempunyai kedudukan yang sama sebagai metode penetapan awal bulan, namun sebenarnya hisab yang dikenal di zaman sekarang menghasilkan kepastian yang qat’i, sehingga penguasa serta pemimpin umat Islam dapat memutuskan untuk mengamalkan dan menggunakannya. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, Ketua MTT PP Muhammadiyah, mengutip pendapat Muhammad Rasyid Ridla dalam kitab al-Manar. Bahkan, lanjutnya, Musthofa Ahmad az-Zarqa menyampaikan; “Saya tidak menemukan di antara perbedaan pendapat yang aneh di kalangan ahli-ahli syariah modern lebih aneh dari perbedaan mereka yang keterlaluan tentang hal yang sesungguhnya tidak boleh dipertikaikan lagi, yaitu kebolehan menggunakan hisab pada zaman ini untuk menentukan permulaan bulan qamariah….”.

 Yang masih menyisakan persoalan adalah karena adanya mathla’ wilayatul hukmi (satu kesatuan hukum wilayah Indonesia), sehingga ketika terjadi kasus garis batas wujudul hilal melewati wilayah Indonesia dan membagi wilayah Indonesia menjadi dua bagian (sudah wujud dan belum wujud). Timbul persoalan, bagian mana yang harus mengikuti, yang sudah wujud mengikuti yang belum wujud atau sebaliknya yang belum wujud mengikuti yang sudah wujud? Inilah yang menjadi tema sentral diskusi dalam pertemuan tersebut.

 Hasil pertemuan ini akan diolah oleh MTT PP Muhammadiyah dan kemudian akan dilaporkan kepada PP Muhammadiyah sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s