Artikel

Peneguhan dan Pencerahan untuk Kemajuan Bangsa

Oleh : Din Samsudin, Khutbah Iftitah Tanwir Muhammadiyah 2007, Hotel Garuda Yogyakarta

 

Bismillahirrahmanirrahim

Hadirin Yang Terhormat,

Terlebih dahulu saya mengajak hadirin semua khususnya keluarga besar Muhammadiyah untuk mempersembahkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan nikmatNya bagi Bangsa Indonesia, khususnya bagi Parsyarikatan Muhammadiyah yang kini menjenjang usia satu abad. Sepanjang perjalanan hamper seabad itu Muhammadiyah mengalami pasang-surut, naik-turun dan suka-duka perjuangan dalam “menegakkan dan menjujung tingggi Agama Islam untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” di Bumi Nusantara yang kita cintai ini.

Suatu hal yang patut disyukuri bahwa Muhammadiyah masih tetap tegar bertahan menghadapi gelombang sejarah dan arus peradaban serta semaki menampilkan kiprahnya dalam ikut memajukan kehidapan bangsa menuju keunggulan dan kejayaan. Seiring dengan itu patut juga disyukuri bahwa Muhammadiyah kini tidak hanya menjadi fenomena Nasional Indonesia tapi telah mampu go International, yaitu dengan terbentuknya sejumlah cabang Istimewa di Kairo, Damaskus, Khourtu, Teheran, Riyadh, Kuala Lumpur, Belanda, Jerman, dan Inggri; selain juga berdirinya “organisasi sadara” (sister organization), yang walaupun tida memiliki hubungan organisatoris dengan Muhammadiyah Indonesia, tetapi mengembangkan nilai-nilai, khittah perjuangan dan lambing yang sama dengan Muhammadiyah Indonesia, di Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Laos.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan sejarahnya, cukup banyak yang telah disumbangkan Muhammadiyah kepada bangsa Indonesia, melalui gerakan pencerdasan, peningkatan kualitas kesehatan, dan kehidupan social, pemberdayaan tarap kehidupan ekonomi masyarakat, selain tentu pencerahan kehidupan keberagamaan umat Islam. Semua usaha itu dilakukan Muhammadiyah dengan semangat dan untuk kepentingan dakwah Islamiyah, yaitu ajakan kepada kebaikan dan keterbaikan (al-da`wah ila al-khyar). Dengan semangat al-da`wah ila al-khyar inilah Muhammadiyah berjuang mengusung Islam yang berkemajuan melakukan pencerahan kebudayaan dan peradaban. Tiadalah berlebihan kiranya untuk dikatakan bahwa Muhammadiyah, sebagai kekuatan masyarakat madani, telah ikut tampil sebagai problem solver atau penyelesai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.

Namun, disamping kesyukuran tadi, segenap warga Persyarikatan Muhammadiyah perlu juga melakukan muhasabah, yaitu evaluasi dan introspeksi, terhadap segala kekuarangan, kelalaian dan kealpaan, sehingga umat Islam di Indonesia belum dapat menjadi factor efektif atau determinan dalam kehidupan masyarakat dan kebangsaan Indonesia., spereti ditunjukkan oleh masih adanya fenomena kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, yang beriringan dengan masih merebaknya fenomena kemusrikan, kemungkaran dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Dalam konteks muhasabah, perlu diakui secara jujur bahwa keterpurukan yang dialami bangsa selama ini dan kebelummampuannya untuk bangkit menuju kemajuan dan keunggulan adalah indicator nyata bahwa umat Islam sebagai bagian terbesar dari bangsa ini belum mampu menampilkan kebesaran kualitatif sebagai penggerak kemajuan dan keunggulan bangsa.

Dengan semangat bermuhasabah itu, warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya perlu menyadari bahwa perjuangan dakwah masih pannjang, masih banyak bengkalai yang belum usai, sementara itu banyak tantangan yang menghadang, namun kita tidak boleh berpantang, karena sekali layer terkembang kita harus sampai ke seberang.

Hadirin Yang Terhormat,

Sebagai bagian terbesar dari bangsa, umat Islam harus merasa memiliki tanggung jawab terbesar pula, sebagai gerakan Islam tertua di Indonesia, Muhammadiyah harus merasa untuk menunaikan tanggung jawab itu paling pertama. Bagi Muhammadiyah, penunaian tanggung jawab ini adalah refleksi keimanan dan sekaligus komitmen kebangsaan. Bertolak dari komeitmen kebangsaan inilah maka Tanwir kali ini mengangkat tema “Peneguhan dan pencerahan Untuk Kemajuan Bangsa”. Dengan tema ini Muhammadiyah melalui peneguhan jatidirinya, ingin meneguhkan jatidiri bagsa; melalui pencerahan dirinya ingin mencerahkan kehidupan bangsa; dan dengan peneguhan dan pencerahan itu Muhammadiyah ingin ikut mendorong kemajuan bangsa. Pemajuan kehidupan bangsa ini adalah aktualisasi dari “Islam yang berkemajuan” yang sejak dulu menjadi orientasi gerakan Muhammadiyah.

Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam adalah agama kemajuan (din al-hadarah), maka berkeislaman sejati adalah keberagaman yang mendorong kemajuan kebudayaan dan peradaban. Kemunduran dan apalagi keterpurukan peradaban adalah bertentangan dengan watak Islam dan tidak mencerminkan keberIslaman sejati itu. Makan oleh karena itu, Muhammadiyah merasa terpanggil untuk mencerahkan kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia yang harus diakui belum mencerminkan kemajuan yang dignifikan.

Memang sejak era reformasi tidak dapat dipungkiri cukup banyak kemajuan yang dicapai bangsa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan nasional. Reformasi itu sendiri menunjukkan kebangkitan bangsa dari otoriterianisme politik dan budaya yang membelenggu lebih dari tiga dasawarsa. Namun, momentum perubahan yang disediakan era reformasi telah tidak termanfaatkan dengan baik selama beberapa tahun hingga 2004 dengan terbentuiknya pemerintahan baru yang memperoleh amanat langsung dari rakyat dan legitimasi dan aksepbilitas yang tinggi. Sungguh besar harapan rakyat akan perubahan dan perbaikan tarap kehidupan. Sungguh besar dan mulia tanggung jawab para pemegang amanat kepemimpinan. Bangsa ini patut bersyukur akan kerja keras pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan. Cukup banyak capaian yang layak mendapat pujian dan penghargaan, seperti terciptanya perdamaian di tubuh keluarga besar bangsa, meningkatnya citra dan pesona bangsa di mancanegara, tersedianya ruang kebebasan beragama dan berekspresi, terbangunnya ifrastruktur dan system demokrasi yang menjadikan Indonesia buah bibir akan lahirnya negeri mayoritas Muslim demokratis pertama dan utama di dinia, untuk sekedar menyebut beberapa bukti.

Sayang harapan-harapan baru itu terhalangi oleh bencana demi bencana alam yang menimpa bangsa, yang tentu menguras segala daya, pikiran dan perhatian baik pemerintah maupun masyarakat. Dan lebih penting kita semua tidak kehilangan asa dan tetap pada keyakinan bahwa dengan kebersamaan kita akan bisa mengatasi keadaan. Memang, kita harus menyadari bencana-bencana alam yang yang menimpa bangsa ini adalah musibah yang mengandung ujian dan cobaan dari Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Bukanlah Rosul ada mengatakan bahwa “jika Allah menyayangi suatu bangsa, maka Dia datangkan kepada bangsa itu ujian dan cobaanNya”. Maka oleh karena itu, dibalik semua musibah pasti ada hikma; seperto pernyataan al-Quran: “Sesungguhnya bersamaan dan kesusahan itu ada kemudahan, dan, sekali lagi, beriringan dengan kesukaran itu ada kelapangan”.

Hadirin Yang Terhormat

Kemampuan untuk mengambil hikmah dari balik musibah dan kemampuan untuk emnciptakan kemudahan di tengah kesusahan adalah apa yang harus dilakukan bangsa Indonesia saat ini. Kemampuan itu menuntut kesediaan, yaitu kesediaan untuk berikhtiar sungguh-sungguh secara kolektif untuk membangun diri dan mengembalikan jatidiri. Jatidiri bangsa adalah permata yang nyaris hilang sekarang ini. Sebagai akibatnya, citra diri kita sebagai bangsa yang ramah-tamah tergantikan oleh kecenderungan baru sebagian anak bangsa yang sering marah-marah; kegotongroyongan yang dulu menjadi watak bangsa telah berubah menjadi kegontok-gontokan; kejuangan yang dulu menjadi nafas bangsa kini terengah-engah dalam daya saing yang rendah; kepercayaan diri sebagai bangsa dengan modal social dan budaya kaya hilang bersamaan dengan munculnya kemiskinan harga diri; dan lebih parah lagi, kepercayaan diri akan Sang Maha Pencipta tertimbun oleh kepercayaan terhadap makhluk ciptaanNya.

Koni, bangsa nyaris kehilangan jatidiri dan kepercayaan diri. Sebagai bangsa, kita acapkali terpesona oleh apa yang datang dari luar negeri. Maka, Indonesia menjadi lahan subur bagi arus liberalisasi, baik ekonomi, politik maupun budaya yang dewasa ini melanda kehidupan bangsa dan menggoyahkan sendi-sendi kehidupan kebangsaan kita. Liberalisasi ekonomi telah menciptakan berbagai sindrom kapitalisme global tidak hanya di kota-kota tapi juga di desa-desa. Sebagai akibatnya, sentra-sentra ekonomi rakyat, termasuk di kalangan umat Islam, hancur lebur tidak kuasa menghalangi arus deras ekonomi kalpitalistik yang digdaya. Para petani banyak yag terjerembab dalam ketidak berdayaan terhadap kaum kapitalis lokal yaitu para rentenir yang menjerat mereka dengan hutang, sehingga mereka menjerit sebagai buruh tani. Para buruh belum cukup beruntung karena sempitnya lapangan kerja di negeri sendiri, sementara di negeri orang para TKI?TKW masih kurang memdapat perhatian sebagai pahlawan devisa.

Muhammadiyah mendukung kebijakan pemerintah yang bertekad mewujudkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi bagi rakyat. Khususnya mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Datu hal yang patut dihargai adalah kebijakan pemerintah untuk menciptakan akses memperoleh pengobatan gratis melalui program askes bagi rakyat miskin. Penerapan system ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil adalah solusi terhadap keadaan bangsa. Karenanya, pemberdayaan pengusaha kecil menengah serta koperasi perlu ditingkatkan sebagai factor indtrumental bagi pemberdayaan ekonomi rakyat. System ekonomi berbasis prisip-prinsip Islam mungkin bisa menjadi alternative bagi pemecahan masalah perekonomian nasional. System yang mulai diterapkan di beberapa Negara berpenduduk mayoritas bukan Islam tentu cukup relevan untuk diterapkan di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim ini. Untuk itu diperlukan keinginan politik pemerintah untuk menciptakan iklim kondusif bagi perkembangan system ini, khususnya perkembangan lembaga keuangan syariah.

Reformasi politik adalah keniscayaan dalam kehidupanbangsa untuk mencapai cita-citanya. System demokrasi memang diyakini sebagai bentu ideal dari pengaturan diri manusia, tetapi demokrasi bukanlah segala-galanya dan bukan tanpa sisi buruk. Proses demokrasi yang berlangsung di Indonesia dewasa ini memang patut dipuji, terutama pada pengembangan dan penguatan lembaga-lembaga demokrasi. Namun, proses demokrasi yang berlangsung, khususnya dalam pemilihan kepala daerah, barulah bersifat procedural dan belum cukup bersifat subtantif. Subtansi demokrasi yang antara lain terletak pada perluasan ruang partisipasi rakyat untuk secara bersama-sama mewujudkan kebaikan bersama sering terkendala oleh bias buruk demokrasi itu snediri, terutama jika paradigma demokrasi liberal yang menjadi pilihan.

Dan inilah yang dapat dicermati terjadi selama ini. Demi demokrasi dan hak-hak asasi manusia rakyat memiliki hak-hak social dan politik untuk bebas berserikat dalam partai politik yang bebas pula bersaing di pentas nasional. Maka tak pelak politik sering sering tampil dan ditampilkan sebagai sarana merebut kekuasaan dan wahana mempertahankan kekuasaan. Terjadilah distorsi makna politik. Politik yang seharusnya dijalankan sebagai factor instrumental untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, kini terjebak ke dalam pragmatisme dan bahkan oportunisme kekuasaan. Cita-cita politik untuk kesejahteraan bergeser menjadi politik untuk kekuasaan.

Sebagai akibatnya, kekuasaan politik sering tidak efektif menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dalam bidang-bidang nonpolitik, seperti ekonomi, social maupun budaya. Masalah-masalah seperti iyu sering hanya mendapat tanggapan politis, bukan penyelesaian kategoris, sehingga bukan solusi yang terjadi tapi tragedy dan ironi. Itulah yang harus dikataka telah terjadi. Sebagai missal, masalah persebaran pornografi dan pornoaksi, baik di mesia maupun di masyarakat yang jelas-jelas merupakan kendala besar dalam proses pembentukan watak dan akhlak bangsa, telah tidak memperoleh bahkan penanggulangan politik itu sendiri, yaitu terkatung-katungnya pembahasan RUU tentang Antipornografi dan Pornoaksi di DPR dan lemahnya penegakkan hokum terhadap pelanggaran yang terjadi. Apa yang terjadi adalah tragedy dan ironi, yakni kita membangun pada satu sisi tapi dari sisi lain kita merubuhkan bangunan itu sendiri.

Demokrasi yang memutlakkan kebebasan tela mendorong euphoria politik kebablasan. Kita memang tidak perlu memutar arah jarum jam sejarah, tetapi arus kebebasan yang kebablasan harus dikendalikan, karena kalau tidak dimensi waktu justeru mempercepat peluncuran bangsa ke titik nadir keberadaannya. Bangsa Indonesia memerlukan keseimbangan baru dalam gerak peradaban dan ketersediaan landasan budaya jitu bagi proses perubahan. Politik sebagai menejemen nasional dalam mengendalikan perubahan perlu diarahkan kepada pencapaian cita-cita kolektif bangsa. Oleh karena itudip[erlukan adanya strategi kebudayaan yang disepakati bersama oleh berbagai elemen bangsa, yang kemudian dijalankan dengan menggalang segala potensi yang ada dalam masyarakat. Pemerintah tentu tidak berpretensi dapat mengatasi semua permasalahan dan tantangan yang kian berat dengan sendirinya tanpa dukungan kekuatan-kekuata masyarakat madani. Saatnya bagi pemerintah untuk lebih meningkatkan kerjasama dan kemitraan strategis dengan organiosasi masyarakat, tidak hanya dnegan partai politik, terutama organisasi masyarakat yang merupakan kelompok aspiran riil dan yang telah berperan empiris berperan bagi negara bahkan sejak negara itu belum ada.

Hadirin yang terhormat,

Dalam perspektif demikianlah ingin meneguhkan hati dan jatidiri untuk dapat ikut mengambil bagian bersama pemerintah dan kelompok-kelompok lain mencerahkan kehidupoan bangsa menuju kemajuan dan keunggulan. Sebagai unsur masyarakat madani yang mengalami hiruk pikuk perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia, Muhammadiyah memandang bahwa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah tanggung awab untuk dipertahankan. Bagi Muhammadiyah NKRI adalah bentuk ideal dari kehidupan bernegara Bangsa Indonesia yang majemuk atas dasar agama, suku, bahasa dan buidaya. Sebagai kelompok yang pada awal kemerdekaan lewat ketuanya Ki Bagus Hadi Kusumo mengusulkan perumusan sila pertama pancasila seperti yang ada sekarang ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, maka bagi Muhammadiyah Negara Pancasila adalah final sebagai alat pemersatu bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai ajaran tauhid, merupakan nafas dari kehidupan berbangsa dan bernegara Bangsa Indonesia. Komitmen terhadap Pancasila ini menolak segala bentuk penyimpangan dan penyelewengan kepada sikap dan pandangan yang anti Tuhan dan Agama.

Sebagai wujud dari komimen kebangsaan itu, maka menjelang masuk ke abad kedua dari kelahirannya, Muhammadiyah ingin meningkatkan peran pencerahannya terhadap kehidupan bangsa. Karenanya, Muhammadiyahmerasa perlu untuk melakukan konsolidasi, baik wawasan (fikrah), maupun organisasi (jama’ah) dan usaha (`amaliah). Ketiga faktor ini merupakan kekuatan gerakan Muhammadiyah sejak awak kelahirannya. Konsolidasi wawasan atau paham kegamaan tersebut mengambil bentuk peneguhan identitas Muhammadiyah sebagai kekuatan arus tengah Islam yang senantiasa memelihara keseimbangan (tawazun) antara pemurnian akidah dan pembaruan muamalat, atau antara reformasi dan modernisasi kehidupan beragama. Pengamalan teologi tengahan (al-`aqidah al-wasithiyah) ini tidak menghalangi Muhammadiyah untuk menjadi tenda besar bagi berbagai kelompok di tubuh umat Islam dan Bangsa Indonesia. Konsolidasi organisasi perlu dilakukan dengan memperkuat jamaah sebagai komunitas basis yang selama ini menjadi ujung tombak gerakan dakwah Muhammadiyah. Revitalisasi cabang dan ranting haruis segera dimulai, karena ranting itu penting dan capang itu terpandang. Dan konsolidasi usaha/program dilakukan dengan mulai berorientasi pada pengembangan kualitas amal usaha milik Muhammadiyah untuk menjadi pusat keunggulan publik, disamping berusaha untuk meningkatkan kuantitas amal usaha. Sesuai tema Muktamar Malang tahun 2005, ”Tajdid Gerakan Untuk Pencerahan Peradaban” maka gerakan Muhammadiyah pada periode ini harus menapilkan nuansa inovatif dan kreatif, serta efek positif dan kontruktif terhadap kehidupan bangsa. Sesuai amanat Muktamar untuk revitalisasi gerakan maka perlu mendapat prioritas upaya menemukan vitalitas Persyarikatan untuk diaktualisasikan kedalam dinamika zaman. Dengan melakukan konsolidasi pada ketiga gatra gerakan, maka Muhammadiyah akan dapat mempertahankan keberadaan dan kesiapannya untuk menjadi kekuatan efektif bangsa merebut kemajuan dan keunggulan.

Penguatan masyarakat madani adalah tuntunan dalam kehidupan modern rakyat warga negara sebagai stakehoders negara memiliki tanggung jawab dan pera menentukan. Muhammadiyah mengajak kepada seluruh unsur masyarakat madani di Indonesia, khususnya di kalangan umat Islam, untuk bergandengan tangan, bahu membahu menjadi penyelasi masalah bangsa (problem solver), bukan menjadi bagian dari masalah (part of the problem) dan apalagi menjadi pencipta masalah (problrm maker).

Sebagai bangsa yang majemuk Bangsa Indonesia perlu menghargai pluralitas (kemajemukan) dan pluralisme (paham tentang kemajemukan). Islam sangat mengakui dan menghargai pluralitas dan pluralisme, baik atas dasar keyakinan agama, maupun kebangsaan dan kesukuan. Menurut al-Quran, perbedaan warna kulit dan bahasa adalah manifestasi huum alam kehidupan, yang kesemuanya perlu dijalin dalam hubungan toleransi (ta’aruf maupuan tasamuh). Namun, toleransi bukanlah menyamakan perbedaan baik dalam bentuk sistesisme (pensenyawaan) maupun sinkretidme (pencampuran), tetapi toleransi adalah menghargai perbedaan disertai sikap siap hidup berdampingan secara damai membangun mozaik yang indah dalam konfigurasi kemajemukan dan keragaman.

Semangat toleransi seperti itu diperlukan Bangsa Indonesia sekarang ini. Karena harus diakui kemajemukan dan keragaman bangsa ini, baik dalam agama, suku, budaya, bahasa dan orientasi politik, masih sering tampil sebagai faktor kelemahan tinimbang faktor kekuatan. Egoisme dan fanatisme kelompok adalah pemicu utama pertentangan bdan konflik dalam masyarakat. Saatnya energi konflik di tubuh bangsa ditransformasikan menjadi energi solidaritas . maka bangsa ini mendambakan hadirnya para negarawan yang bertindak sebagai pencipta solidaritas (solidarity maker), yang dengan kearifan den kebijaksanaan mereka menghimpun kebersamaan dan kekuatan bangsa, saatnya kearifan dan kebijaksanaan membimbing bangsa ini. Saatnya kaum arif-bijaksana bersekutu untuk menjadi Pelita Bangsa. Dengan pelita-pelita itulah mata hati bangsa akan tersinari dan menyinari perjalanan bangsa. Sang Surya Muhammadiyah ingin tetap bersinar dan menyinari kemajuan bangsa di masa depan.

 

Membangkitkan Dinamika Internal Muhammadiyah

Oleh: Dr. Haedar Nashir

ImageMuhammadiyah lahir dan mekar karena sebuah keyakinan, paham, dan tekad perjuangan yang fundamental dari pendirinya. Kyai Haji Ahmad Dahlan melahirkan Muhammadiyah pada tahun 1912 sebagai hasil dari suatu proses pergumulan yang penuh pertaruhan, baik dari segi pemikiran maupun perjuangannya. Jadi tidak sembarang lahir, tumbuh, dan berkembang secara kebetulan atau apa adanya. Menurut Nurcholish Madjid (1983: 310), Kyai Dahlan adalah sosok pencari kebenaran sejati, yang melahirkan pembaruan Islam, dan pembaruannya luar biasa karena tidak mengalami prakondisi sebelumnya (break-throught).
Dari rahim pergumulan yang mendasar itu lahirlah gerakan Muhammadiyah yang berjuang ”menyebarluaskan” dan ”memajukan” ajaran Islam, mula-mula di wilayah residensi Yogyakarta, kemudian meluas ke seluruh Indonesia. Dengan ruh dan pemahaman Islam yang demikian, maka berdirinya Muhammadiyah memiliki konteks ketika umat dalam keadaan jumud dan terbelakang, yang memerlukan sebuah gerakan Islam, yang menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama sebagaimana dipraktikkan oleh umat Islam selama ini, yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai ”a Way of Life in all Aspects”, suatu  sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya (Djarnawi Hadikusuma, t.t: 68).
Muhammadiyah juga lahir dalam bentuk sebuah gerakan Islam, bukan sekadar pemikiran atau wacana. Menurut H. Djarnawi Hadikusuma, Kyai Dahlan mendirikan Muhammadiyah karena dalam sanubarinya tertanam dorongan Al-Quran Surat Ali Imran ayat 104, yang belakangan sering disebut ”ayat Muhammadiyah”, yakni:

Artinya: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung”.
Ayat Al-Quran tersebut,  yang sering dikaitkan dengan ayat ke-110 pada Surat yang sama, merupakan ayat pergerakan. Belakangan, ayat tersebut juga sering dipakai dan menjadi ikon bagi gerakan-gerakan Islam di dunia Muslim kontemporer. Ayat tersebut, menurut  para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak,  yang juga mengandung penegasan tentang ”hidup berorganisasi”. Maka tidak berlebihan jika dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, ”melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi”, yang  mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.
Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911 (Adaby Darban, 2000: 13). Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah”  (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Di sini, organisasi pun diperlukan untuk memayungi dan mengendalikan lembaga-lembaga gerakan dalam Muhammadiyah. Lembaga-lembaga yang berada dalam Muhammadiyah pun, termasuk amal usahanya, harus menyatukan diri (berada dalam syarikat) Muhammadiyah, bukan sebagai ”kerajaan-kerajaan sendiri”.
Kyai Dahlan, dengan paham agamanya yang bersifat tajdid, juga melahirkan teologi ”praksisme” Al-Ma‘un, sebuah terobosan tipikal dan cerdas, mirip ”teologi pembebasan” dalam pemikiran dan gerakan kontemporer, yang kemudian dilembagakan menjadi PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang kini menjadi PKU (Pembina Kesejahteraan Umat). Kesimpulannya apa? Bahwa selain produk pemikiran, kelahiran amal usaha Muhammadiyah terikat dengan misi dan ikatan organisasi Muhammadiyah. Jadi, bukan sembarang amal usaha, dan dilepaskan tergantung siapa yang mengelolanya, tetapi milik dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari Muhammadiyah. Karena itu, mempertahankan, membesarkan, dan mengembangkan amal usaha Muhammadiyah pun harus menjadi komitmen seluruh yang ada di dalam Persyarikatan. Lebih-lebih bagi mereka yang berada dalam lingkungan amal usaha Muhammadiyah.
Kyai Dahlan, yang diikuti para murid dan pelanjutnya, juga membesarkan Muhammadiyah dengan perjuangan yang gigih. Ketika dokter dan para sahabatnya, bahkan istri tercintanya meminta beliau untuk beristirahat karena sakit, Kyai bahkan menganggap anjuran itu sebagai ”bisikan syaitan”. Ketika diancam untuk tidak hadir ke Banyuwangi dan bila tetap memaksakan diri akan dibunuh, Kyai Dahlan bahkan mendatangi kota di ujung Jawa Timur itu, yang ternyata tak apa-apa bahkan akhirnya di sana berdiri Cabang Muhammadiyah. Kyai Dahlan tidak ingin menghentikan langkahnya, karena merupakan tonggak penentu keberadaan Muhammadiyah yang akan lebih memudahkan bagi generasi pelanjutnya. Di belakang hari, para penerus Muhammadiyah pun membesarkan gerakan Islam tercinta ini dengan semangat yang ikhlas, gigih, cerdas, dan penuh pengorbanan. Hingga Muhammadiyah mampu meretas usia jelang satu abad saat ini.
Muhammadiyah dalam praktik gerakannya juga tumbuh dari bawah. Ranting bahkan menjadi basis gerakan Muhammadiyah. Ranting berfungsi sebagai pembina jama‘ah. Keberadaan Ranting bahkan harus mensyaratkan adanya kegiatan, seperti pengajian, dan sebagainya. Jadi mendirikan Ranting bukanlah simbolik dan formalistik, tetapi harus menjadi  bagian dan memenuhi persyaratan sebagai sebuah gerakan. Karena itu, Muhammadiyah menjadi gerakan yang terus bergerak. Menurut K.H. AR. Fakhruddin, jika Muhammadiyah tidak bergerak, maka bukan Gerakan Islam. Orang Muhammadiyah harus gigih, kreatif, dinamis, tidak ”mutungan” (mudah patah arang) dan ”wegahan” (malas), dan gerakannya harus dirasakan oleh semua orang (AR Fakhruddin, dalam Sujarwanto dan Haedar Nashir, 1900: 318-319). Jadi Muhammadiyah dan seluruh anggota Persyarikatan, tidak boleh diam dan statis, tetapi harus bergerak secara dinamis. Itulah etos gerakan Muhammadiyah  yang harus dibangkitkan, yakni dinamika internal atau dinamika inti gerakan Muhammadiyah.

http://www.suara-muhammadiyah.or.id/sm/Majalah/SM20-16-31-Oktober

BAGIAN KEDUA TULISAN

Kini, muncul gejala dan fakta dari akar-rumput yang mulai memprihatinkan. Masjid Muhammadiyah tidak terkelola dengan baik, cari imam dan khatib pun kesulitan. Terdapat pula masjid milik Persyarikatan yang  pelaku dan isi kegiatannya justru dilakukan kalangan lain. Bahkan ada masjid Muhammadiyah yang kemudian pindah kelola ke tangan pihak lain, baik karena terlantar atau karena kelalaian. Gejala tersebut  menurut sementara pendapat, menunjukan bahwa orang-orang Muhammadiyah kurang/tidak tekun, gigih, dan sungguh-sungguh mengelola masjid di lingkungannya.

 

Berita lain tak kalah mencemaskan atau bahkan memprihatinkan. Bahwa amal usaha Muhammadiyah di tingkat bawah mulai kalah saing oleh lembaga-lembaga sejenis baru milik organisasi lain.  Ironisnya, terdapat pula orang-orang Muhammadiyah termasuk pimpinan atau yang berada di amal usaha, malah ikut mendirikan dan membesarkan amal usaha milik organisasi lain. Lebih ironis lagi apa yang disampaikan oleh dua bersaudara, K.H. Muhammad Muqoddas, M.Ag. yang juga Ketua PP Muhammadiyah  dan Muhammad Busyro Muqoddas, SH. yang juga Ketua Komisi Yudisial, terdapat gejala orang-orang di amal usaha yang bersikap, ”amal usaha yes, Muhammadiyah no!”, lebih khusus lagi ”maisah di amal usaha yes, membesarkan Muhammadiyah no!”. Atau sikap yang mendua lainnya, baik dalam berorganisasi maupun sikap ideologis dan keagamaannya.

 

Baaimana menyikapi masalah tersebut. Secara internal atau ke dalam tentu saja merupakan bahan introspeksi bagi seluruh jajaran Muhammadiyah. Dari segi ini, semua itu terjadi karena kelemahan dan kelengahan internal Muhammadiyah sendiri. Kelemahan tersebut berkisar antara lain: (1) terlambat atau tidak meningkatkan kualitas dan intensitas pengelolaan masjid dan amal usaha secara optimal dan secara lebih baik; (2) abai atau lalai dalam menjaga milik sendiri; (3)  tidak selektif dalam menerima anggota atau mereka yang bekerja di amal usaha dan kurang pembinaan; (4) kurang atau tidak memiliki militansi yang tinggi, berkiprah apa adanya, dan berbuat sendiri-sendiri atau sibuk sendiri tanpa terkait dengan kepentingan Muhammadiyah; (5) lebih tertarik pada urusan politik dan hal-hal yang bersifat mobilitas diri serta tidak peduli pada kepentingan dakwah dan menggerakkan Muhammadiyah; (6) kurang solid dan konsolidasi gerakan; (7) kurang/lemah komitmen, pemahaman, dan pengkhidmatan terhadap misi serta kepentingan Persyarikatan.

 

Karena itu diperlukan langkah-langkah peneguhan dan konsolidasi internal yang kokoh dan terprogram dari Muhammadiyah sendiri. Langkah internal tersebut antara lain: (a) menanamkan kembali kepada anggota mengenai hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam agar seluruh anggota Persyarikatan yakin dan paham betul akan kebenaran Islam yang menjadi misi utama Muhammadiyah, sehingga tidak ragu-ragu dan tidak memilih gerakan lain; (b) memahami dan menghayati secara mendalam mengenai hakikat Muhammadiyah  sebagai gerakan Islam yang melaksanakan dakwah dan tajdid, sehingga mereka berada dalam posisi untuk menampilkan Islam yang bersifat pemurnian sekaligus pembaruann, tidak semata-mata pemurnian ala Wahabiyah atau Salafy yang rigid, juga sebaliknya tidak terjebak pada sekularisasi pemikiran Islam yang lepas dari sumbu dasar Islam; (c) Menggerakkan Muhammadiyah dalam melaksanakan dakwah dan tajdid melalui usaha-usahanya secara ikhlas, sungguh-sungguh, gigih, dan berkelanjutan; sehingga secara istiqamah dan militan menjadi kekuatan umat yang berjuang menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya; (d) Menggalang ukhuwah dan soliditas internal gerakan sehingga menjadi kekuatan yang kokoh; tidak tercerai-berai, dan tidak berpaling ke gerakan lain apapun bentuknya apalagi gerakan politik kendati bersayap dakwah sebab Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah yang sudah teruji dan tidak ada kepentingan politik kekuasaan; (e) Mengembangkan sistem gerakan melalui penguatan jama‘ah, jam‘iyah, dan imamah sehingga gerak Muhammadiyah berjalan secara terorganisasi dan kuat; memiliki disiplin organisasi yang tinggi, dan semuanya hanya bernaung dalam sistem Muhammadiyah secara utuh; (f) Menyiapkan sumberdaya manusia dan kader yang unggul, militan, cerdas, dan siap membela organisasi dengan istiqamah dan rasa memiliki dan berkomitmen yang tinggi; (g) Menata dan mengkonsolidasi kembali seluruh amal usaha sebagai alat/kepanjangan misi Persyarikatan sekaligus ajang kaderisasi Muhammadiyah, termasuk menyeleksi dan membina seluruh orang yang berkiprah di dalamnya, sehingga amal usaha itu benar-benar mengikatkan, memposisikan, dan memfungsikan diri sebagai milik Muhammadiyah, dan bukan milik mereka yang berada di amal usaha apalagi nilik organisasi lain; yang harus dikelola dengan sistem dan disiplin organisasi Muhammadiyah; (h) bersikap tegas terhadap organisasi manapun yang masuk dan dapat mengganggu tatanan serta kelangsungan Muhammadiyah, lebih-lebih terhadap partai politik apapun termasuk partai politik yang mengemban misi dakwah sebagai mereka adalah organisasi lain yang berada di luar; bahwa semuanya harus dibingkai ukhuwah tentu saja tetapi harus bersikap timbal-balik dan saling mengormati; (i) Melakukan langkah-langkah pembinaan anggota secara intensif dan sistematik dengan pendekatan-pendekatan klasik dan baru agar tumbuh sebagai anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyahh  yang istiqamah dan membela sepenuh hati misi serta kepentingan Muhammadiyah, lebih-lebih di saat kritis dan harus memilih; (j) Mengembangkan usaha dan kemampuan-kemampuan kompetitif serta jaringan-jaringan kerjasama secara independen dengan pihak manapun sehingga Muhammadiyah menjadi gerakan yang unggul dan dirasakan kehadirannya sebagaimana layaknya gerakan Islam yang terbesar di negeri ini.

Segenap anggota Muhammadiyah, lebih-lebih pimpinannya harus sungguh-sungguh meyakini dan memahami bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan selalu berada dalam garis atau relnya yang benar. Jika kebetulan ada anggota Muhammadiyah termasuk yang berada di amal usaha diberi kelebihan harta, pikiran, tenaga, relasi, dan anugerah lainnya, kenapa tidak disalurkan dan dimanfaatkan untuk membesarkan dan mengembangkan amal usaha dan dakwah Muhammadiyah? Sikap seperti itu sungguh mulia dan menunjukkan komitmen yang tinggi erhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah juga bekerja tiada lain lil-‘izzat al-Islam wa al-muslimin. Bukan untuk Muhammadiyah, tetapi untuk umat dan bangsa, untuk menjadi rahmat bagi semesta kehidupan.

Setiap anggota Muhammadiyah dituntut untuk berhajat dan berkiprah sepenuh hati melalui Muhammadiyah. Bahwa merawat dan sadar akan miliki sendiri, baik  dari penyakit internal maupun dari luar, sesungguhnya merupakan sikap menjaga ”marwah” (kehormatan) dan ”muru‘ah” (rasa malu) sebagaimana layaknya orang yang memiliki independensi dalam berorganisasi. Menjaga ghirah gerakan. Sikap yang demikian bukanlah sikap ekstrem atau keras, apalagi mengobarkan konflik. Kalau mau dikatakan fanatik, boleh juga, karena apalah arti berorganisasi manakala tak ada fanatisme. Soal fanatisme-buta, yang salah bukan fanatiknya, tetapi buta-nya. Setiap anggota Muhammadiyah berhak membela misi dan kepentingan Muhammadiyah, sebagaimana anggota gerakan Islam lainnya membela misi dan kepentingannya.

 

Dengan meminjam logika ”maqasid al-syari‘at”  dalam tradisi Islam klasik, bahkan kita diajari untuk bersikap ”syaja‘ah” (berani karena benar) untuk melakukan proteksi  diri berupa ”hifdl al-din” (memelihara agama), ”hifdl al-nafs” (memelihara jiwa), ”hifdl al-nasl” (memelihara keturunan), ”hifd al-mal” (memelihara harta), ”hifd al-‘aql” (memelihara akal pikiran), bahkan memelihara kehormatan (hifdl al-ardl). Orang Islam memang tidak boleh bersikap nekad (tahawwur, jangankan benar, salah pun berani). Namun juga dilarang bersikap ”jubun” (pengecut), jangankan salah, benar pun takut. Lalu, munculah sikap selalu mencari aman, mencari mudah, dan apapun yang terjadi dianggap baik. Bersikap tegas dianggap keras dan suka konflik, kendati untuk menjaga kehormatan dan keberadaan organisasi. Tenang-tenang saja, tapi juga tidak bertindak. Jangan gaduh dan harus cantik menyikapi, namun tidak pula muncul sikap yang tegas, sebatas retorika. Akhirnya, tidak terasa lama kelamaan Muhammadiyah melemah, amal usahanya pun satu persatu susut atau bahkan lepas.

 

Soal kita memiliki kelemahan? Introspeksi? Muhasabah diri. Pasti, itu memang  dirasakan dan diakui, yang memerlukan perbaikan dan penyempurnaan tak kenal henti. Bahkan organisasi yang besar seperti Muhammadiyah kata Pak AR Fakhruddin (Allahu yarham), laksana gajah bengkak. Namun, sadar akan kelemahan diri kita, bukan berarti harus membutakan diri dari penyakit yang datang dari luar. Bukan berarti membiarkan pengeroposan organisasi berlangsung tanpa antisipasi dan penyikapan. Apalagi kemudian membiarkan organisasi Muhammadiyah menjadi kian rentan. Jika tahu ada kelemahan, kenapa tidak bergerak? Kenapa tidak segera berbuat? Jangan sampai, sikap mengakui kelemahan itu, pada saat yang sama karena tidak mau sungguh-sungguh berbuat memperbaikiki kelemahan sekaligus mau bersikap tegas dalam bebnetngi organisasi dari gangguan yang datang dari luar. Paling repot, sudak tidak berbuat dan bersikap, melemah-lemahkan diri sendiri sambil tidak melakukan penguatan, karena hati bimbang  dan sulit bersikap tegas. Padahal, salah satu sikap kader dan pimpinan organisasi ialah bersikap tegas, dengan tetap cerdas dan arif.

(QS. Ash-Shaff/61: 4).

Mari kita jadikan semua peristiwa yang kurang bagus  di tubuh Muhammadiyah itu sebagai ujian, cobaan, hikmah, dan tempaan untuk bangkit dan berbuat. Tapi, sebelum bangkit dan berbuat, mulailah dari kesadaran adanya masalah. Jangan membutakan diri dari masalah, sebab nanti lama kelamaan masalah kecil kian membesar, lalu setelah segala sesuatunya terlanjur kita tak mampu mengendalikan dan mencari pemecahan. Kata pepatah, sesal kemudian tak ada gunanya. Lagi pula, memang mana ada sesal yang datang di waktu awal, itu namanya sesal yang salah kaprah. Memecahkan masalah pun tentu tak harus ekstrem, tetapi juga harus jelas dan sistematik. Setahap demi setahap pun tak masalah, yang penting ada kesadaran, itikad, dan tindakan. Bukan helah, menghindar dari masalah. Sabda Nabi, ”khair al-’amal adwamu-ha wa in qala”.  Amal yang baik ialah yang berkelanjutan, kendati sedikit. Apalagi jika amal itu besar dan sistematik, maka akan menjadi lebih baik lagi.

Dari mana memulai? Setelah sadar adanya masalah, lantas bangkitlah melakukan ikhtiar atau tindakan-tindakan tersistem secara terorganisasai, selain melalui jalur-jalur individu sebagai penguat dan pendukung. Bangkitkan etos gerakan dari dalam secara serius dan memiliki vitalitas tinggi. Gerakkan seluruh lini Persyarikatan, termasuk amal usahanya secara bersama-sama dan tersistem. Langkah organisasi, lebih-lebih yang bersifat penting dan strategis,  sungguh memerlukan kesungguhan (jihad) dan sikap kolektif  yang menyatu/bersinergi, tidak bercerai-berai, laksana sebuah barisan yang kokoh sebagaimana firman Allah SWT.:

”Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash-Shaff/61: 4). Semoga Allah melimpahkan ridla dan karunia-Nya kepada kita. Nashrun min Allah wa fathun qarib.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s